SAAT KEMAJUAN TEKNOLOGI MENGGESER TRANSPORTASI KONVENSIONAL



Semoga Tidak Terulang Kembali....!

Kemajuan teknologi menjadi salah satu yang tak bisa dihindari. Kemudahan melintasi jarak dan waktu membuat banyak hal tergilas zaman. Kartu Lebaran salah satunya.Perkembangan teknologi menggeser beberapa kebudayaan lama. Salah satunya fitur teknologi telekomunikasi SMS dan internet mulai menggantikan fungsi kartu pos sebagai media saling mengucapkan selamat LebaranPraktis. Itulah alasan sebenarnya SMS lebih dipilih dibandingkan kartu lebaran. Bayangkan, dengan tarif yang rata-rata Rp 250 per sms, pesan telah tersampaikan. Sementara dengan kartu Lebaran, pengirim harus mengeluarkan setidaknya Rp 5.000 per kartu. Itupun belum termasuk biaya mengirimnya melalui pos.Akibatnya, omset penjualan kartu pos pun menurun. Tak sampai satu dekade lalu, kartu Lebaran menjadi primadona. Dengan berbagai desain dan gaya, benda ini bahkan memiliki rak khusus di hampir semua toko buku. Tak hanya itu, benda-benda penghiasnya pun ikut laris manis. Seperti pita, keranjang, amplop, hingga prangko. Bahkan bisnis kartu Lebaran beberapa tahun lalu menciptakan peluang bagi para penerbit kartu hingga seniman lukis yang menjajakan produknya di pinggir-pinggir jalan.

  Tapi kini semuanya sudah terganti, teknologi yang lebih canggih menggeser keberadaan mereka !!!


  Ketika alfamart, indomaret, dan toko-toko  sejenis menjamur di Indonesia, lantas kemudian menghabisi puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu toko kelontong/tradisional, pemerintah pusat tidak ‘ganas’ sekali mengeluarkan peraturan “demi keadilan”, untuk menyelamatkan toko kelontong. 

Apakah yang tergeser lantas ANARKIS dan melakukan perbuatan yang melanggar Hukum?Yang memecah Persatuan dan Kesatuan Bangsa ? 
Tidak !!!.

Demonstrasi Menolak Transportasi via Aplikasi oleh Telur
Apakah Kakek Tua ini mendemo Toko Online?
Mereka diam saja. Toh, konsumen memang lebih menyukai toko-toko baru ini.
  •  Tidak perlu Menawar, 
  • Harga jelas, 
  • Lebih murah,  
  • Lebih nyaman,  
  • Dan semua serba ada.

Tapi ketika transportasi online menjamur di Indonesia, Gojek, Grab, Uber, dll, lantas kemudian mengancam menghabisi jasa transportasi tradisional, entah kenapa, pemerintah baru ‘ganas’ sekali mengeluarkan peraturan “demi keadilan”. Padahal logikanya, bukankah sama dengan alfamart, indomaret ini, konsumen jelas lebih menyukai transportasi model baru ini. Tidak perlu nawar, tidak takut argonya jebol, lebih gampang, lebih nyaman, dan semua tinggal klik, klik dan klik.

Apa yang membedakan antara kasus pertama dan kasus kedua?


  1. Yang pertama, yang disingkirkan adalah rakyat jelata biasa, jadi bodo amat itu toko kelontong mau mati semua; 
  2. Kasus yang kedua, wah, yang hendak tersingkir adalah pemilik modal. Ada banyak perusahaan taksi raksasa yang bisa kacau urusannya. Ada banyak pemain besar yang tidak mau diotak-atik model bisnisnya. Jangankan di Jakarta, di bandara2 lokal saja, kita sudah tahu sama tahu, dikuasai oleh ‘koperasi’ taksi--alias orang kuat penguasa bandara tersebut.  Nah, yang satu ini, tidak bisa bodo amat, mereka punya organisasi, mereka bisa melakukan lobby. Maka pemerintah semangat mengeluarkan argumen “demi keadilan” melindungi--entah keadilan seperti apa maksudnya.


Apakah pemerintah peduli dengan realitas bahwa konsumen sangat terbantu dengan adanya transportasi online? Apakah pemerintah peduli dengan fakta bahwa transportasi online juga memberikan kesempatan kerja pada ratusan ribu penduduk Indonesia? Apakah pemerintah paham jika transportasi online jauh lebih murah dan efisien?

Lihatlah generasi baru pengguna transportasi online.


  • Pesan makanan, Go Food atau Grab Food
  • Mau kemana2, naik Go-Jek/Go-Car, Grabbike /Grab Car, ataupun Uber. 
  • Mau ambil barang atau Kirim Barang bisa pakai  Go send /Grab Ekpres. 
  • Mau beli sesuatu, lagi hujan deras, atau nggak bisa kemana2,bisa pakai  Go mart 
Mudah Bukan....Apapun bisa anda lakukan hanya melalui Jari anda dimanapun dan kapanpun selagi diwilayahnya masih terjangkau oleh Aplikator.

Hidup jauh lebih mudah bukan?. Siapa sih yang hidupnya jadi lebih susah setelah ada transportasi online? Opang--ojek pangkalan? Tidak juga. Mereka kalau mau jadi pengemudi Gojek, Grab, Uber, dll,, justeru terbantu. Kecuali memang lebih suka mangkal, ngobrol santai, lantas saat ada penumpang, langsung kasih tarif Rp 40.000 (padahal gojek cuma Rp 6.000). akan tetapi itu sudah tidak jaman lagi.

Sama tidak jamannya, di Kota tertentu misalnya, bandara hanya dikuasai oleh 1 taksi saja (“koperasi”). Taksi ini berkuasa penuh. Tarif mereka tentukan sendiri di awal. Yang harganya tentu saja lebih mahal. Mobil mereka bau rokok. Sopirnya merokok santai saja (meski penumpang sudah protes). Pelayanan tidak maksimal. Dengan semua fakta tersebut, kita mau bicara soal pariwisata? Turis-Turis asing mendarat di Kota ini, mereka harus menemukan taksi2 ini? Eww, belum lagi taksi gelap yang semau mereka pasang harga. Sopir2 yg tidak dikenali, dan rentan sekali menipu. 'Calo' di lobi kedatangan yg merangsek penumpang, kadang memaksa.

Helloooo??? kenapa tidak digantikan dengan transportasi online? Saat turis turun, mereka buka aplikasi. Mereka klik, klik, klik, tentukan tujuan. Tarifnya jelas, murah, diskon pula. Rutenya jelas. Mobilnya jelas, sopirnya jelas, ada fotonya, dan clear. Mobil mereka juga nyaris keluaran terbaru. Dalamnya terawat dan tidak bau rokok. Sopirnya ramah, berasa punya mobil pribadi. Come on, jika pejabat pemerintah itu mau membela kepentingan rakyat jelata sedikit soal ini, seharusnya sejak dulu, “koperasi” taksi penguasa bandara2 itu sudah digantikan. Mau pakai logika manapun, tetap saja tidak masuk akal terus membela “koperasi” ini beroperasi.

Entahlah........!!!

Rejeki tidak akan Pernah Tertukar....

Semoga Pemerintah kedepan dapat memberikan dan mewujudkan Transportasi yang aman, Yang murah, yang Nyaman tentunya tidak sembarang ngetem disembarang tempat .
Mari Bersaing dengan  sehat, Bersama sama mewujudkan Transportasi yang diharapankan Masyarakat Banyak



#Salam Damai dari kami Patogbesi
#Salam Satu Aspal


Saran dan Kritik
081586679711
www.patogbesi.com
admin@patogbesi.com
divsos@patogbesi.com

About Patogbesi

0 comments:

Posting Komentar